iklan

Wednesday, February 20, 2019

Perkembangan Pola Pikir Manusia (Artikel)

Perkembangan Pola Pikir Manusia (Artikel)


A. PENDAHULUAN
Munculnya ilmu pengetahuan adalah karena karakter unik yang dimiliki oleh manusia yaitu hasrat/keinginan untuk mengetahui. Manusia mempuyai rasa ingin tahu terhadap benda-benda di sekelilingnya, alam sekitar, matahari, bulan, tanaman, hewan dan semua makhluk hidup yang lainya. Tidak sampai di sini, manusia juga mempunyai hasrat untuk mengetahui tentang hakikat dirinya sendiri (antroposentris).
B. JENIS- JENIS POLA PIKIR
Umum
Menurut Auguste Comte (1798-1857), dalam sejarah perkembangan peradaban manusia, baik sebagai individu maupun keseluruhan, berlangsung dalam tiga tahap:
-Tahap teologi/fiktif, dalam tahap ini manusia berusaha untuk mencari dan menemukan sebab yang pertama dan tujuan akhir dari segala sesuatu. tentu saja semua itu dihubungkan kepada kekuatan ghaib diluar kemampuan mereka sendiri. Mereka meyakini adanya kekuatan yang maha hebat yang menguasai semua fenomena alam entah itu dewa atau kekuatan ghaib lainya.
-Tahap filsafat/fisik/abatrak, tahap ini hampir sama dengan tahap sebelumnya. Hanya saja mereka mendasarkan semua itu pada kamampuan akalnya sendiri,akal yang mampu untuk melakukan abstareaksi untuk menemukan hakikat sesuatu.
-Tahap positif/ilmiah riil, merupakan tahap di mana manusia mampu untuk melakukan aktivitas berfikir secara positif atau riil. Kemampuan ini didapatkan melalui usaha pengamatan, percobaan, dan juga perbandingan.
Berpikir adalah kemampuan penalaran manusia dengan proses yang benar. Penalaran merupakan usaha logis dan analaisis untuk menmukan jawaban atas berbagai pertanyaaan. Kemampuan ini tidak didapat melalui perasaan. Namun tentu ada pengetahuan yang bersumber dari bukan penalaran, yaitu:
Pengambilan keputusan berdasarkan perasaaan
Intuisi, kegiatan berpikir yang tidak analisi. Intuisi adalah pengetahuan yang timbul dari pengetahuan-pengetahuan terdahulu, intuisi bisa saja timbul menyelesaikan permasalahan tanpa proses berpikir yang sistematis
Wahyu, merupakan sumber pengetahuan yang paling tnggi
Trial and error, mencoba dan menemukan kegagalan, mencoba lagi dan gagal lagi hingga menemukan cara yang benar-benar tepat.
Ilmu Pengetahuan
Adanya pola-pola dasar atau desain atau kerangka yang dilakukan oleh aktivitas jiwa dalam menemukan suatu pengetahuan memerlukan suatu objek pengetahuan dan instrumen untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Bertambahnya pengetahuan seiring dengan proses perkembangan pola pikir manusia diawali dengan rasa ingin tahu tentang benda-benda di sekelilingnya, alam sekitar, bulan, bintang dan matahari yang dipandangnya, bahkan rasa ingin tahu tentang dirinya sendiri. Adanya kemampuan berfikir manusia menyebabkan rasa ingin tahunya selalu berkembang. Dengan kemampuan berfikir manusia dapat mendayagunakan pengetahuannya yang terdahulu dan kemudian menggabungkan dengan pengetahuannya yang diperoleh hingga menghasilkan pengetahuan yang baru. Pengetahuan yang ingin dicari atau didapatkan tentunya bersumber pada kebenaran. Tahu yang memuaskan manusia adalah tahu yang benar. Tahu yang tidak benar disebut keliru. Jika suatu pengetahuan yang terdahulu mengalami kekeliruan maka sudah pasti terdapat suatu kebenaran sesudahnya. Kekeliruan tentunya akan memberikan dampak yang negatif bagi manusia sehingga mereka meninggalkan suatu kekeliruan. Asumsi awal manusia mendapatkan pengetahuan secara empirik melalui pengamatan dan pengalaman. Data-data inderawi, benda-benda memori manusia merupakan beberapa instrumen dalam mendapatkan pengetahuan. Di samping itu perasaan intuitif atau insting juga menambah kepercayaan terhadap penemuan yang didapatkan sehingga kepercayaan terhadap suatu objek pengetahuan menimbulkan keyakinan terhadap ilmu pengetahuan tertentu. Ilmu Pengetahuan itu dapat ditinjau kembali kebenarannya, jika terdapat kekeliruan maka akan timbul ketidakpuasan sebagai akibat keterbatasan manusia khususnya dalam penggunaan instrumen atau pengolahan data-data inderawi dalam menerima pengetahuan tanpa dia ketahui kemudian melahirkan mitos. Hal tersebut terjadi sebagai akibat dari rasa ingin tahu terhadap suatu realitas yang kurang terpuasakan terutama mengenai hal-hal yang ghaib. Namun seiring dengan perkembangan pola pikir manusia yang haus akan rasa ingin tahu melalui kajian-kajian ilmu pengetahuan maka pada akhirnya melahirkan pengetahuan yang ilmiah. Pengetahuan ilmiah memerlukan alasan dan atau penjelasan secara sistematis yang dibuat untuk memberikan keyakinan.
Bentuk dan sumber pengetahuan Russel membuat kategori-kategori berikut :
BAB I
PENDAHULUAN


"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu lah yang paling Pemurah. Yang mengajarkan manusia dengan pena. Mengajarkan kepada manusia apa-apa yang belum diketahuinya." (QS. Al-'Alaq: 1-5)

Ayat di atas merupakan pekenalan dan petunjuk dari Allah Swt. Mengenalkan bahwa pencipta segala sesuatu itu adalah Allah sendiri tanpa bantuan dari selain-Nya. Manusia diciptakan dari segumpal darah dengan melalui proses pertumbuhan, menurut hokum yang telah ditetapkan Allah (sunnatullah). Allah menyatakan diri-Nya bahwa Dialah yang Maha Pemurah, oleh karena itu bukan untuk ditakuti apalagi dijauhi. Tetapi harus didekati dan diikuti segala kehendak-Nya, demi kepentingan dan kebaikan umat manusia sendiri. Dialah Maha Pendidik yang bijaksana, mendidik manusia dengan ilmu pengetahuan menulis dan membaca.
Lebih jauh dari itu, ayat tersebut sebagai petunjuk bahwa manusia harus bisa membaca dalam arti sesungguhnya dan dalam arti majazi (kiasan). Arti sesungguhnya adalah membaca apa yang ditulis berupa huruf. Sedangkan arti majazi, adalah membaca diri sendiri dan alam sekitar serta latar belakang dari keduanya. Jadi apa yang dikehendaki Allah itu ialah agar manusia mampu atau bisa membaca apa yang tersurat dan apa yang tersirat, hingga benar-benar mengenal dirinya dan bertindak sesuai dengan pengenalannya itu.[1]


A.     LATAR BELAKANG MASALAH

Dengan kekuasan Allah manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling istimiwa dan sempurna dari pada makhluk Allah yang lain. Yamg membedakan manusia dengan makhluk lain ialah akal budinya,dengan akalnya manusia bisa membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang tidak bermanfaat,dengan hal ini,  sehingga derajat manusia mengungguli derajat makhluk yang lain.
Dengan akal budinya manusia menemuka berbagai cara untuk melindungi diri terhadap pengruh lingkungan yang merugikan. Dengan akalnya pula manusia bisa menemukan penemua-penemuan baru. Bermacam-macam ilmu dipelajari, mulai dari perjalanan hidupnya sendiri, lingkungannya, hingga keberadaan alam semesta, semua diamati dan diteliti secara seksama dan sistimatis. Dengan penelitiannya manusia menemukan suatu  teori kemudian menyusunnya, sehingga terbentuklah ilmu  pengetahuandan teknologi yang bisa mengantarkan manusia kepada kehidupan yang lebih mudah dari sebelumnya.
Akal budi manusia adalah alat untuk berfikir , tentunya dengan selalu berfikir manusia bisa mengetahui apa-apa yang belum diketahuinya. Namun yang perlu dipertanyakan ialah,apakah akal manusia itu digunakan untuk berfikir sesuatu yang baik? Ataukah sebaliknya ? Hal ini, tergantung kepada cara manusia menyikapi kehidupan ini.  
B.     RUMUSAN MASALAH
Sesuai dengan judul yang akan dibahas, maka timbul permasalahan diantranya:
1.      Bagaimana proses cara berpikirnya manusia?
2.      Apa penyebab dari perkembangan pola pikir manusia ?
  BAB II
PEMBAHASAN.

A. RASA INGIN TAHU
Ilmu pengetahuan alam bermula dari rasa ingin tahu yang merupakan cirri khas manusia. Manusia mempunyai rasa ingin tahu tentang benda-benda di alam sekitarnya, bulan, bintang, dan matahari, bahkan ingin tahu tentang dirinya sendiri (antroposentris).[2]
Dengan pertolongan akal budinya manusia menemukan berbagai cara untuk melindungi diri terhadap pengaruh lingkungan yang merugikan. Tetapi adanya akal budi itu juga menimbulkan rasa ingin tahu yang selalu berkembang. Rasa ingin tahu itu tidak pernah dapat dipuaskan. Kalau salah satu soal dapat dipecahkan maka timbul soal lain yang menunggu penyelesaian. Akal budi manusia tidak pernah puas dengan pengetahuan yang dimilikinya.
Rasa ingin tahu mendorong manusia untuk melakukan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk mencari jawaban atas berbagai persoalan yang muncul dalam pikirannya. Kegiatan yang dilakukan manusia itu kadang-kadang kurang serasi dengan tujuannya. Sehingga tidak dapat menghasilkan pemecahan. Tetapi kegagalan biasanya tidak menimbulkan rasa putus asa, bahkan seringkali justru membangkitkan semangat yang lebih menyala-nyala untuk memecahkan persoalan. Dengan semangat yang makin berkobar ini diadakanlah kegiatan-kegiatan lain yang dianggap lebih serasi dan dapat diharapkan akan menghasilkan penyelesaian yang memuaskan. Kegiatan untuk mencari pemecahan dapat berupa:
a.       Penyelidikan langsung.
b.      Penggalian hasil-hasil penyelidikan yang sudah pernah diperoleh orang lain.
c.       Kerja sama dengan penyelidik-penyelidik lain yang juga sedang memecahkan soal yang sama atau yang sejenis.[3]

B. MITOS
Rasa ingin tahu manusia ternyata tidak dapat terpuaskan hanya atas dasar pengamatan ataupun pengalaman. Untuk itulah, manusia mereka-reka sendiri jawaban atas keingintahuannya itu. Sebagai contoh: "Apakah pelangi itu?", karena tak dapat dijawab, manusia mereka-reka jawaban bahwa pelangi adalah selendang bidadari. Jadi muncul pengetahuan baru yaitu bidadari. Contoh lain: "Mengapa gunung meletus?", karena tak tahu jawabannya, manusia mereka-reka sendiri dengan jawaban: "Yang berkuasa dari gunung itu sedang marah". Dengan menggunakan jalan pemikiran yang sama muncullah anggapan adanya "Yang kuasa" di dalam hutan lebat, sungai yang besar, pohon yang besar, matahari, bulan, atau adanya raksasa yang menelan bulan pada saat gerhana bulan. Pengetahuan baru yang bermunculan dan kepercayaan itulah yang kita sebut dengan mitos. Cerita yang bedasarkan atas mitos disebut legenda.
Mitos itu timbul disebabkan antara lain karena keterbatasan alat indera manusia misalnya:
1. Alat Penglihatan
Banyak benda-benda yang bergerak begitu cepat sehingga tak tampak jelas oleh mata. Mata tidak dapat membedakan benda-benda. Demikian juga jika benda yang dilihat terlalu jauh, maka tak mampu melihatnya.
2. Alat Pendengaran
Pendengaran manusia terbatas pada getaran yang mempunyai frekuensi dari 30 sampai 30.000 perdetik. Getaran di bawah 30 atau di atas 30.000 perdetik tak terdengar.

3.    Alat Pencium dan Pengecap
Bau dan rasa tidak dapat memastikan benda yang dicecap maupun diciumnya . manusia hanya bisa membedakan 4 jenis masa yaiturasa manis,msam ,asin dan pahit.
Bau seperti farfum dan bau-bauan yang lain dapat dikenal oleh hidung kita bila konsentrasi di udara lebih dari sepersepuluh juta bagian. Melalui bau, manusia dapat membedakan satu benda dengan benda yang lain namun tidak semua orang bisa melakukannya.
       4.     Alat Perasa
Alat perasa pada kulit manusia dapat membedakan panas atau dingin namun sangat relatif sehingga tidak bisa dipakai sebagai alat observasi yang tepat.
Alat-alat indera tersebut di atas sangat berbeda-beda, di antara manusia: ada yang sangat tajam penglihatannya, ada yang tidak. Demikian juga ada yang tajam penciumannya ada yang lemah. Akibat dari keterbatasan alat indera kita maka mungkin timbul salah informasi, salah tafsir dan salah pemikiran. Untuk meningkatkan kecepatan dan ketepatan alat indera tersebut dapat juga orang dilatih untuk itu, namun tetap sangat tersbatas. Usaha-usaha lain adalah penciptaan alat. Meskipun alat yang dicipatakan ini masih mengalami kesalahan. Pengulangan pengamatan dengan berbagai cara dapat mengurangi kesalahan pengamatan tersebut. Jadi, mitos itu dapat diterima oleh masyarakat pada masa itu karena:
a. Keterbatasan pengetahuan yang disebabkan karena keterbatasan penginderaan baik langsung maupun dengan alat.
b. Keterbatasan penalaran manusia pada masa itu.
c. Hasrat ingin tahunya terpenuhi.[4]
Menurut Auguste comte (1798-1857),dalam sejarah perkembangan jiwa manusia, baik sebagai individu maupun sebagai keseluruhan, berlangsung tiga tahap:
1.      Tahap teologi atau fiktif
2.      Tahap filsafat atau metafisik atau abstrak
3.      Tahap positif atau ilmiah riel
Pada tahap teologi atau fiktif manusia berusaha untuk mencaari atau menemukan sebab yang pertama dan tujuan yang terakhir dari segala sesuatu,dan selalu dihubungkan dengan kekuatan ghaib. Gejala alam yang menarik perhatiannya selalu diletakkan dalam kaitannya dengan sumber yang mutlak. Mempunyai anggapan bahwa setiap gejala dan peristiwa dikuasi dan diatur oleh para dewa atau kekuatan ghaib lainnya.
Tahap metafisika atau abstrak merupakan tahap dimana manusia masih tetap mencari sebab utama dan tujuan akhir, tetapi manusia tidak lagi menyadarkan kepada kepercayan akan adanya kekuatan ghaib , melainkan kepada akalnya sendiri,akal yang telah mampu melakukan abstraktasi guna menemukan hakikat segala sesuatu.
Tahap positif atu riel merupakan tahap dimana manusia telah mampu berfikir secara positif atau riel,atas dasar pengetahuan yang telah dicapainya yang dikembangkan secara positif ,melalui pengamatan , percobaan dan perbandingan[5].
Mitos adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman dan pemikiran sederhana serta dikaitkan dengan kepercayaan akan adnya kekuatan ghaib. Sehingga pengetahuan yang diperoleh bersifat subyektif.[6]
Gempa bumi diduga terjadi karena Atlas (raksasa yang memikul bumi pada bahunya )memindahkan bumi dri bahu yang satu kebahu yang lain. Gerhana bulan diduga terjadi karena dimakan oleh raksasa. Menurut dongeng raksasa itu takut pada bunyi – bunyian, maka pada waktu gerhana bulan manusia memukul apa saja yang dapat menimbulkan bunyi. Supaya raksasa itu takut dan memuntahkan kembali bulan purnama. Bunyi guntur dikira ditimbulka oleh adanya kereta yang dikendarai dewa melintas langit.
Demikian pada tahap mitos atau tahap teologi ini manusia menjawab rasa ingin tahunya dengan menciptakan dongeng-dongeng atau mitos, karena alam pikirannya masih terbatas pada imajinasinya dan cara berpikir irasional. 
       C.    MITOS ANTARA PRO DAN KONTRA

Masyarakat dahulu dapat menerima mitos karena keterbatasan pengetahuan, pengalaman, dan pemikirannya.sedangkan hasrat ingin tahunya berkembang terus.
Puncak hasil pemikiran seperti di atas terjadi pada zaman Babylona,yaitu kira-kira 700-600 SM. Pendapat orang Babylona tentang alam semesta antara lain adalah bahwa alam semesta merupakan suatu ruangan atau selungkup. Lantainya adalah bumi yang datar , sedangkan langit dengan bintangnya merupakan atapnya. Dilangit ada semacam jendela yang memungkinkan air hujan dapat sampai ke bumi.
Karena kemampuan berpikirnya manusia semakin maju dan disertai pula oleh perlengkapan pengamatan, misalnya teropong bintang, mitos dengan berbagai legendanya makin ditinggalkan, dan mereka cendrung menggunakan akal sehat dan rasionya.[7]
Diantara tokoh-tokoh Yunani dan lainnya yang telah memberikan perubahan berpikir pada waktu itu adalah:
a.    Anaximander,(610-546 SM) seorang pemikir kontemporer pada masa thales. Dia berpendapat bahwa langit yang kita lihat sebenarnya hanya setengah saja. Langit dan segala isinya itu beredar mengelilingi bumi, dan pendapat ini dapat bertahan sampai abat pertengahan.
b.    Amaximines,(560-520 SM)seorang yang berpendapat bahwa unsur-unsur dasar pembentukan semua benda itu adalah air,seperti pendapat thales. Air merupakan salah satu bentuk benda, bila merenggang menjadi api , dan bila memadat menjadi tanah.
c.    Herakleitos(560-470 SM),seorang pengkoreksi pendapat Anaximenes bahwa justru apilah yang menyebabkan adanya transmutasi itu; tanpa api benda-benda akan tetap seperti adanya.
d.    Plato,(427-347 SM)mempunyai titik tolak berpikir yeng berbeda dengan para ahli sebelumnya. Ia menghindari pemikiran yang terlalu materialistik,seperti Demokritos dan Empedokles. Menurut Plato, keanikaragaman yang tmpak ini sebenarnya merupakan suatu duplikat saja dari sesuatu yang kekal dan immaterial.
e.    Aristoteles,(348-322 SM)Ia adalah pemikir terbesar pada zamannya karena berhasil membukukan intisari dari ajaran para ahli sebelumnya. Ia membuang hal-hal yang tidak masuk akal dan menambahkan pendapatnya sendiri. Aristotiles tidak mempercayai adanya ruang hampa. Ia berpendapat bahwa bila disuatu tempat tidak ada apa-apanya (benda). Disitu pasti ada sesuatu yang immaterial, yaitu ether (bukan ether yeng kita kenal sebagai nyawa kimia). Ajaran Aristoteles yang penting adalah suatu pola berpikir dalam memperoleh kebenaran berdasarkan logika.
Contoh: semua benda bila dipanaskan dalam keadaan kering akan berubah menjadi api.(1)
Kayu adalah benda (2)
Kayu bila dipanaskan dalam keadaan kering akan berubah menjadi api(3)
1)      Disebut premis mayor suatu yang berlaku umum.
2)      Disebut premis minor suatu yang khusus.
3)      Kesimpulan.[8]






BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang unik Makhluk yang berbeda dengan makhluk Allah yang lainnya. Sehingga selain mempunyai insting –sebagaimana makhluk lainnya—manusia juga mampu berpikir. Dan dengan pikirannya itu timbullah rasa ingin tahu yang selalu berkembang. Rasa ingin tahu tidak pernah  dapat dipuaskan. Kalau salah satu soal dapat dipecahkan maka timbul soal lain yang menunggu penyelesaiannya. Dengan selalu berlangsungnya perkembangan pengetahuan itu, tampak lebih nyata bahwa manusia berbeda daripada hewan. Manusia merupakan makhluk yang berakal serta mempunyai derajat yang tertinggi bila dibandingkan dengan hewan atau makhluk lainnya.
   Berkat pengamatan yang sistematis dan kritis, serta makin bertambahnya pengalaman yang diperoleh, lambat-laun manusia berusaha mencari jawab secara rasional dengan meninggalkan cara yang irasional. Pemecahan yang secara rasional berarti mengandalkan rasio dalam usaha memperoleh pengetahuan yang benar. 





DAFTAR PUSTAKA


1.       Departemen Agama, Alquran dan Terjemahannya
2.       Drs.H.Abu Ahmadi dan Ir.A.Supatmo, Ilmu Alamiah Dasar, Rineka Cipta, Jakarta, 1998
3.       Drs.Mawardi-Ir.Nur Hidayati, Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Sosial Dasar, Ilmu Budaya Dasar, Pustaka Setia, Bandung, 2007
4.       Drs.Abdullah Ali dan Ir.Eny Rahma, Ilmu Alamiah Dasar, Bumi Aksara, Jakarta, 1996
5.       Trianto, Wawasan Ilmu Alamiah Dasar, Prestasi Pustaka, Jakarta, 2007
   


[1] Trianto, Wawasan Ilmu Alamiah Dasar, (Jakarta:Prestasi Pustaka,2007), hal.60.
[2] Drs.Mawardi-Ir.Nur Hidayati, Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Sosial Dasar, Ilmu Budaya Dasar, (Bandung:Pustaka Setia, 2007), hal.11
[3] Drs.Abdullah Ali dan Ir.Eny Rahma, Ilmu Alamiah Dasar, (Jakarta, Bumi Aksara, 1996), hal.2-3
[4] Drs.H.Abu Ahmadi dan Ir.A.Supatmo, Ilmu Alamiah Dasar, (Jakarta:Rineka Cipta,1998), hal.18-19
[5] Ibid hal 19-20
[6] Ibid. hal 20
7 Drs.Mawardi-Ir.Nur Hidayati, Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Sosial Dasar, Ilmu Budaya Dasar, (Bandung:Pustaka Setia, 2007)hal 14-15
[8] Drs.Mawardi-Ir.Nur Hidayati, Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Sosial Dasar, Ilmu Budaya Dasar, (Bandung:Pustaka Setia, 2007) hal 15-17


Selasa, 28 Juni 2011

MITOS SEBAGAI LANDASAN PERKEMBANGAN POLA PIKIR MANUSIA


A.    Perkembangan Alam Pikiran Manusia
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa manusia memiliki quoritas yang tinggi atau mempunyai rasa ingin tahu rahasia alam dengan menggunakan pengamatan dan penggunaan pengalaman, tetapi sering tidak dapat menjawab masalah dan tidak memuaskan. Pada manusia kuno untuk memuaskan diri, mereka mencoba membuat jawaban sendiri. Misalnya, apakah pelangi itu? Mereka tidak dapat menjawab. Maka mereka mencoba menjawab dengan mengatakan bahwa pelangi adalah selendang bidadari, maka timbullah pengetahuan baru yaitu bidadari. Pengetahuan baru itu yang merupakan kobinasi antara pengalaman-pengalaman dan kepercayaan disebut mitos. Cerita-cerita mitos itu disebut legenda. Mitos dapat diterima waktu karena keterbatasan pengindraan, penalaran dan hasrat ingin tahu yang perlu segera dipahami.
Sehubungan dengan kemajuan zaman, maka lahirlah ilmu pengetahuan dan metode pemecahan masalah secara ilmiah yang dikenal dengan metode ilmiah (scientific method).
Puncak pemikiran mitos adalah pada zaman Babylonia, yaitu kira-kira 700-600 SM. Sebagai contoh, orang Babylonia berpendapat bahwa alam semesta sebagai ruang setengah bola dengan bumi yang datar sebagai lantainya, dan langit dengan bintang-bintang sebagai atapnya, dan masih banyak lagi mitos dari Babylonia. Pengetahuan semacam mitos dapat disebut pseudo science (sains palsu), artinya mirip sains, tetapi bukan sains sebenarnya.
Selanjutnya, berdasarkan kemampuan berpikir manusia yang makin maju dan perlengkapan pengamatan makin sempurna, maka mitos makin ditinggalkan orang dan cenderung menggunakan akal sehat atau rasio.
Berikut ini saya akan mencoba menyebutkan tokoh-tokoh Yunani dan lainnya yang telah memberikan sumbangan perubahan berpikir sebagai berikut:
1.          Anaximander, ia merupakan seorang pemikir kontemporer pada masa Thales, yang berpendapat bahwa langit yang kita lihat sebenarnya hanya setengah saja.
2.          Anaximanes (560-520 SM.), berpendapat bahwa unsur-unsur dasar pembentukan semua benda itu adalah air, seperti pendapat Thales.
3.          Herakleitos (560-470 SM.), seorang pengoreksi pendapat Anaximenes bawa justeru apilah yang menyebabkan adanya transmutasi itu; tanpa api benda-benda akan tetap seperti adanya.
4.          Phytagoras (500 SM.), yang berpendapat bahwa unsur dasar semua benda semuanya adalah empat, yaitu: tanah, api, udara, dan air.
5.          Demokritas (460-370 SM.), yang berpendapat tentang unsur-unsur dasar benda.
6.          Empedokles (480-430 SM.), merupakan orang yang menyempurnakan ajaran Phytagoras tentang empat unsur dasar, yaitu: tanah, air, udara dan api.
7.          Plato (427-345 SM.), dia mempunyai titik tolak berpikir yang berbeda dengan orang-orang sebelumnya. Menurut Plato, keanekaragaman yang tampak ini sebenarnya hanya suatu duplikat saja dari semua yang kekal dan immaterial.
8.          Aristoteles (384-322 SM.), dia berpendapat bahwa tidak ada ruang yang hampa, maka bila suatu ruang tidak terisi oleh suatu benda akan diisi oleh sesuatu yang immaterial, yaitu ether. Ajaran Aristoteles yang penting adalah pola pikir berdasar logika untuk mencari kebenaran.
9.          Ptolomeus (127 – 151 M.), seorang tokoh besar setelah Aristoteles. Buah pikirnya yang penting tentang bumi, sebagai pusat sistem tata surya (geosentris), terbentuk bulat, diam, seimbang tanpa tiang penyangga.
10.      Avicenna (Ibn Shina abad 11), seorang ahli ilmu pengetahuan terutama dalam bidang kedokteran, filosuf. Selain Ibnu Shina, ahli lainnya dari dunia Islam, yaitu: Al-Buruni (abad 11), al-Khawarizzini, al-Farghani, al-Batani (abad 9), Abul Weva (abad 10), Omar Khayam dan Zarqali (abad 11), al-Kindi, al-Farabi (flosuf abad 10), al-Ghazali (filosof abad 11), Ibn Rusyd. Pada abad 9-11 semua ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani diterjemahkan dan dikembangkan ke dalam bahasa Arab.

B.     Proses Perkembangan Pola Pikir
Setelah kita mengikuti perkembangan alam pikir manusia, yaitu yang bermula dari rasa ingin tahu yang merupakan ciri khas manusia, kemudian manusia menggunakan logikanya untuk menjawab fenomena alam yang dihubungkan dengan kepercayaan dan pengalaman-pengalaman yang disebut dengan mitos, maka alangkah lebih baiknya jika kita mengetahui proses perkembangan pola pikir manusia secara terperinci.
Berikut ini saya akan mencoba menjelaskan bagaimana proses perkembangan pola pikir manusia dari zaman kuno sampai zaman teknologi.
1.          Rasa Ingin Tahu
Menurut ilmu alamiah bahwa manusia itu mempunyai ciri-ciri, yaitu jasmaniah komplek, mengalami metabolisme atau pertukaran zat, bergerak, mudah terangsang oleh lingkungan, mempunyai potensi untuk berkembang-biak, dan pada akhirnya akan mati. Dan ciri-ciri di atas ternyata manusia itu sama dengan binatang atau makhluk lain.
Rasa ingin tahu yang dimiliki makhluk lain, seperti air dan udara atau benda mati lainnya, bukanlah atas kehendaknya sendiri, melainkan akibat dari pengaruh ilmiah yang bersifat kekal.
Makhluk-makhluk hidup seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang rasa ingin tahunya dengan cara pertumbuhan atau berpindah, namun pertumbuhan atau gerakan itu terbatas, yaitu untuk mempertahankan kelestarian hidupnya yang bersifat tetap dan berlangsung sepanjang zaman.
Kehendak untuk berpindah dari suatu tempat ke tempat lain yang dilakukan oleh binatang, yaitu untuk mengetahui apakah di tempat itu ada cukup makanan untuknya sendiri atau bersama yang lain? Apakah suatu tempat cukup aman untuk membuat sarang? dan sebagainya, merupakan pengetahuan bagi binatang. Namun, pengetahuan itu tidak berubah dari zaman ke zaman (instink).
Bagaimana halnya dengan manusia? Manusia juga memiliki instink seperti yang dimiliki oleh hewan dan tumbuh-tumbuhan. Tetapi, tidak tetap sepanjang zaman. Itulah perbedaan manusia dengan makhluk lain dalam hal rasa ingin tahu.

2.          Mitos
Proses perkembangan pola pikir manusia selanjutnya setelah rasa ingin tahu adalah mitos, yang merupakan objek kajian paper ini. Setelah kita ketahui sedikit tentang mitos yang telah diulas pada bagian A, maka untuk lebih jelasnya akan dibahas pada bagian C, yaitu mitos sebagai landasan perkembangan pola pikir manusia.

3.          Mitos antara Pro dan Kontra
Masyarakat dahulu dapat menerima mitos karena keterbatasan pengetahuan, pengalaman, dan pemikirannya, sedangkan hasrat ingin tahunya berkembang terus. Itulah sebabnya mitos merupakan jawaban yang paling memuaskan pada zaman itu.
Puncak hasil pemikiran seperti di atas, terjadi pada zaman Babylonia, yaitu kira-kira 700-600 SM. Kita ambil salah satu contoh, di antaranya Heroskop atau ramalan nasib manusia berdasarkan perbintangan. Masyarakat waktu itu, bahkan mungkin masih ada pada masa sekarang, dapat menerima karena pengetahuan yang mereka peroleh dari kenyataan pengamatan dan pengalaman tidak dapat digunakan untuk memacahkan masalah hidup yang mereka hadapi, ini merupakan contoh orang-orang yang pro akan mitos.
Kemampuan berpikir manusia semakin maju disertai perlengkapan pengamatan, misalnya teropong bintang, maka mitos dengan berbagai legendanya makin ditinggalkan dan beralih kepada akal sehat. Inilah contoh dari orang-orang yang kontra akan mitos.
Orang-orang Yunani yang patut dicatat sebagai pelopor perubahan, sebagaimana yang telah dijelaskan sedikit pada sub bahasan A adalah sebagai berikut:
a.       Anaximander (610 – 546 SM),
b.      Anaximanes (560 – 520 SM.),
c.       Herakleitos (560 – 570 SM,),
d.      Phytagoras (+ 500 SM.),
e.       Demokritas (460-370 SM.),
f.        Empedokles (480-430 SM.),
g.      Plato (427-345 SM.),
h.      Aristoteles (384-322 SM.),
i.        Ptolomeus (127 – 151 M.),
j.        Ibn Shina (abad 11),

4.          Terbentuknya Galaxi
Sejak lama manusia telah berusaha memahami alam semesta ini. Pada zaman kejayaan Yunani orang percaya baha bumi merupakan pusat dari alam semesta ini (geosentris). Namun, pandangan itu berubah sejak abad pertengahan, yang dipelopori oleh Copernicus, menjadi heliosentrik, yaitu mataharilah yang menjadi pusat beredarnya bumi bersama planet-planet lain. Saat itu dianggap sebagai awal dari perkembangan ilmu pengetahuan alam. Pengamatan selanjutnya mengungkapkan bahwa matahari merupakan segala salah satu dari beribu-ribu bintang yang beredar mengikuti pusatnya, dan matahari termasuk galaksi. Ternyata galaksi itu tidak hanya satu, tetapi beribu-ribu jumlahnya. Galaksi tempat matahari berinduk diberi nama Milky Way atau Bima Sakti. Yang jadi pertanyaan sekarang adalah, apakah semua galaksi itu berpusat dari suatu induk galaksi? Beberapa teori mengungkapkan sebagai berikut:
a.      Teori Ledakan
Teori ledakan ini bertolak dari asumsi adanya suatu massa yang sangat besar dan mempunyai berat jenis yang sangat besar, meledak dengan hebat karena adanya reaksi inti.
b.      Teori Ekspansi dan Kontraksi
Teori ini berdasarkan pemikiran bahwa ada suatu siklus dari alam semesta, yaitu masa ekspansi dan masa kontraksi. Diduga bahwa siklus ini berlangsung dalam waktu 30.000 juta tahun.
Dalam masa ekspansi, terbentuklah galaksi serta bintang-bintangnya. Pada masa kontraksi, galaksi dan bintang-bintang yang meredup dan unsur-unsur yang terbentuk menyusut mengeluarkan tenaga berupa panas yang sangat tinggi.

TEORI TERBENTUKNYA GALAKSI
Hipotesis Fowler (1957)
Menurut Fowler; dua belas ribu juta tahun yang lalu galaksi kita tidaklah seperti sekarang ini. Bentuknya berupa kabut gas hidrogen yang sangat besar yang berada di ruang angkasa. Ia bergerak perlahan mengadakan rotasi, sehingga keseluruhan berbentuk bulat. Karena gaya bertnya, ia mengadakan kontraksi. Masa bagian luar banyak yang tertinggal dan pada yang berkisar lambat dan mempunyai berat jenis yang besar terbentuklah bintang–bintang.

C.    Mitos Merupakan Salah Satu Proses Perkembangan Pola Pikir Manusia
Mitos merupakan suatu perkembangan pola pikir manusia yang kedua setelah rasa ingin tahu.


1.      Pengertian Mitos
Mitos adalah suatu pengetahuan berdasarkan penghayatan digabungkan dengan pengalaman dan didasarkan dengan kepercayaan. Dalam istilah lain disebutkan bahwa mitos adalah pengetahuan baru yang merupakan kombinasi antara pengalaman-pengalaman dan kepercayaan.
Dalam kajian ilmu filsafat, mitos ini dibuang jauh-jauh karena tidak sesuai dengan akal sehat atau rasio manusia.

2.      Sejarah Mitos
Bermula dari rasa ingin tahu yang tinggi yang merupakan ciri khas manusia, selanjutnya berkembang apa yang dinamakan mitos. Masyarakat zaman pra Yunani Kuno sekitar tahun 15 – 7 SM. Percaya pada mitos dan itu merupakan salah satu jaaban yang dihubungkan dengan pengalaman dan kepercayaan saat itu. Untuk itulah manusia mereka-reka sendiri jawban atau keingintahuan itu. Sebagai contoh; apakah pelangi itu? Karena tidak dapat dijawab. Maka mereka-reka jawban bahwa pelangi adalah selendang "bidadari", maka timbullah pengetahuan baru yaitu "bidadari".
Puncak pemikiran mitos adalah pada zaman Babylonia, yaitu kira-kira 700 – 600 SM. Maka pada zaman itu manusia ada yang pro dan ada juga yang kontra pada mitos

3.      Timbulnya Mitos
Mitos timbul disebabkan antara lain oleh keterbatasan alat indra manusia:
a.      Keterbatasan pengetahuan
Keterbatasan pengetahuan ini disebabkan oleh keterbatasan penginderaan, baik langsung maupun tidak langsung.


b.      Keterbatasan penalaran
Yang dimaksud keterbatasan penalaran di sini adalah keterbatasan manusia dalam pemikirannya.
c.       Ingin segera mendapat jawaban
Karena fenomena alam yang terjadi pada masa lalu mendesak manusia untuk mengemukakan jawaban, maka timbullah mitos dan ini merupakan jawaban kenapa mitos diterima pada masa itu.

Tinggalkan Komentar Anda Terimakasih

SKRIPSI MAHASISWA S1 KESEHATAN MASYARAKAT

  BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Perlindungan terhadap anak pada suatu masyarakat bangsa merupakan tolak ukur peradaban ban...